PEMAKNAAN SIMBOL-SIMBOL DALAM TAHLILAN PADA TRADISI SATU SURO DI MAKAM RAJA-RAJA MATARAM KOTAGEDE-YOGYAKARTA

Fatimah al Zahrah

Abstract


Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui mengapa tahlilan dalam tradisi malam satu Suro memiliki makna yang penting dalam kehidupan masyarakat, khususnya tradisi malam satu Suro di makam raja-raja Mataram Kotagede Yogyakarta. Selain itu, tahlilan yang biasa diadakan untuk mendoakan orang yang sudah meninggal, memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Kotagede. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, yang pengumpulan datanya dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teori yang digunakan yaitu teori simbol yang ditawarkan oleh Clifford Geertz. Pelaksanaan tradisi malam satu Suro di Kotagede diwarnai dengan beberapa simbol seperti tahlilan sebagai simbol utama, pembakaran dupa, tawasul dan jenang suran. Tahlilan yang dilakukan oleh masyarakat Kotegede pada tradisi malam satu Suro, masyarakat meyakini bahwa tahlilan sebagai sebuah proses dalam memperoleh keberkahan “ngalap berkah” bagi setiap pengunjung yang hadir. Hasil penelitian mengatakan bahwa tahlilan bertujuan bertujuan untuk mendoakan arwah para leluhur khusunya bagi para raja-raja Mataram, bagi masyarakat bermakna membawa keberkahan dan keberuntungan untuk menjalankan kehidupan selanjutnya. Selanjutnya, jenang suran melambangkan beban hidup yang di-panggul (dipikul) oleh manusia, hal ini maksud bahwa menjalani kehidupan harus penuh dengan tekad dan keberanian dalam menghadapi segala resikonya.

 


Keywords


Tradisi, Satu Suro, Simbol, Tahlilan.

Full Text:

PDF

References


Abdussomad, M. (2005). Tahlilan dalam Perspektif Al-Qur’an dan As-Sunnah. Jember: PP Nurul Islam.

Abrar, Aulia. (2012). Karakter Visual Koridor Jalan Karang Lo Kotagede, Yogyakarta, Tesis Universitas Pasca Sarjana.

Agus, Bustanuddin (2006). Agama dalam Kehidupan Manusia Pengantar Antropologi Agama. Jakarta: Rajawali.

Al Makin. (2016). Keragaman dan Perbedaan: Budaya dan Agama dalam Lintas Sejarah Manusia. Cet. 4. Yogyakarta: SUKA Press.

Albiladiyah dan Suratmin. (1997). Kotagede Pesona dan Dinamika Sejarahnya. Yogyakarta: Lembaga Studi Jawa.

Al-Ma’arfif. 2015. Islam Nusantara: Studi Epistemologi dan Kritis, dalam jurnal Analisis: Jurnal Studi Keislaman, Vol. 15.

Anies, Madchan. (2009). Tahlil dan Kenduri: Tradisi Santri dan Kiai. Yogyakarta: Pustaka Pesantren.

Barir, Muhammad. (2017). Tradisi Al-Qur’an di Pesisir: Jaringan Kiai Dalam Transmisi Tradisi Al-Qur’an di Gerbang Islam Tanah Jawa. Yogyakarta: Nurmahera.

Geertz, Clifford. (1992). Tafsir Kebudayaan. terj. Yogyakarta: Kanisius.

______. (2014). Agama Jawa: Abangan, Santri, Priyayi, terj. Aswad Mahasin dan Bur Rasuanto. Depok: Komunitas Bambu.

Graaf, De. (1985). Awal Kebangkitan Mataram. Jakarta: Grafitti Press.

Harisah, Afifah dan Zulfitria Masiming. 2008. Persepsi Manusia Terhadap Tanda, Simbol, dan Spasial, Jurnal Smartek, Vol. 6, No. 1.

Hidayah, Djihan Nisa Arini. (2013). Persepsi Masyarakat Terhadap Malam Satu Suro. dalam jurnal Democratia, Volume 1, Nomor 1.

Japarudin. (2017). Tradisi Bulan Muharam di Indonesia, dalam jurnal Tsaqofah dan Tarikh, Volume 2, nomor 2, Desember.

Litiloly, Muhammad Khadafi. (2019). Studi Morfologi Kawasan Kotagede di Kota Yogyakarta: Perkembangan Pola Kawasan Kotagede dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya”, dalam jurnal Arsitektur Komposisi, Volume 12, Nomor 3.

Lusoi, Ayu, M. Siburian dan Wastun Malau. (2018). Tradisi Ritual Bulan Suro pada Masyarakat Jawa di Desa Sambirejo Timur Percut Sei Tuan, dalam jurnal Gondang: Jurnal Seni dan Budaya, Volume 2 [1].

Muryantoro, Herwin, Wakidi dan Ali Imron. (2017). Tradisi Suroan pada Masyarakat Jawa di Kampung Rukti Harjo Kecamatan Seputih Raman. dalam jurnal Studi Sosial, Vol. 5, No. 2.

Nakamura, M. (1983). Bulan Sabit Muncul dari Pohon Beringin. Yogyakarta: Gadja Mada University Press.

Pals, Daniel L. (2012). Seven Theories of Religion, terj. Inyiak Ridwan Muzir dan M. Syukri. Yogyakarta: IRCiSoD.

Sahal, Akhmad dan Munawir Aziz (ed). (2016). Islam Nusantara: dari Ushul Fiqih hingga Paham Kebangsaan, cet. II. Bandung: PT Mizan Pustaka.

Sakarov, Ogi Dani dan Septiana Fathurrohmah. 2018. Dinamika Ruang Budaya pada Kawasan Cagar budaya Kotagede Yogyakarta. dalam jurnal Plano Madani, Volume 7.

Soehadha, Moh. (2012). Metodologi Penelitian Sosial Kualitatif untuk Studi Agama. Yogyakarta: SUKA Press.

_______. (2014) Fakta dan Tanda Agama Suatu Tinjauan Sosio-Antropologi, Yogyakarta: Diansra Pustaka Indonesia.

Suratno. 2003. Tata Kota Tradisional Jawa sebagai Penunjang Pariwisata di Kotagede Yogyakarta. dalam jurnal Masyarakat dan Budaya, Volume 5, Nomor 1.

Wawacara dengan bapak Mantri Pujohastono sebagai abdi dalem, asal Wonokromo Solo, pada tanggal 1 September 2019.

Wawancara dengan ibu Siti Langdem, asal Suryadiningrat dan ibu Sri Wahyuni, asal Wilong Kotagede, pada tanggal 1 September 2019.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2021 AL-TADABBUR

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NoDerivatives 4.0 International License.